Cari Blog Ini

Senin, 18 April 2011

domba potong

BAB I
PENDAHULUAN
Domba dapat diklasifikasikan pada subfamilia caprinae dan semua domba domestik termasuk genus Ovis Apries. Perkem bangan kambing juga mengikuti perkembangan domba. Pusat perkembangan domba dan kambing terjadi di stepa aralocaspian. Dari sini berkembang ke iran, india,asai tenggara ke barat yaitu asai barat, eropa dan afrika. Sejak dulu domba sudah masuk ke amerika, australia, dan beberapa kepulauan tropik ocenia.
Di afrika terdapat hewan liar yang dikenal dengan nama baebari atau arni (ammotragus lervia),mempunyai hubungan dekat dengan domba tetapi tidak pernah di domestikasikan dan tidak ada hubungan dengan domba modern. Di daerah asia tenggara yang basah terdapat beberapa jenis domba dan umumnya tubuhnya kecil, berambut, meskipun di indonesia terdapat domba ekor gemuk yang ada kemungkinannya berasal dari india atau asia nbarat dan ada juga yang mempunyai wool jelek yang berasal dari persilangan domba lokal berambut dengan jenis domba wool dari cape di australia. Di hutan juga di thailand dan malaysia terdapat juga domba yang wool kasar yang merupakan persilangan antara domba lokal dengan domba wool dari cina.
Domba dengan kaki panjang dan domba berambut yang kecil asal afrika barat di baewa ke brazilia, guyana dan india barat pada abad ke 17 dan berkembang di daerah tropik basah dimana domba iberian dimasukkan lebih dulu tidak dapat berkembang dengan baik.
Terdapat banyak bukti bahwa domba lebih sensitif dibandingkan dengan ternak yang lain terhadap perubahan iklim. Namun demikian, domba dapat dengan mudah beradaptasi dengan kondisi makanan yang tersedia, bahkan mampu hidup dengan baik pada rumput seadanya seperti rumput lapangan. Di darrah tropis, domba mampu hidup di daerah ketinggian dengan iklim semi arid dimana vegetasi rumput pendek atau pada stappe.


Dari perkembangan daerah dengan pakan serta iklim yang berbeda akan terdapat deretan domba yang berbeda bada. Dengan perdagangan ternak serta usaha gradding up akan menyebabkan perkembangan bangsa-bangsa domba yang bermacam macam.
Di indonesia domba yang paling umum adalah domba kecil yang tidak termasuk pada jenis tertentu, pada umumnya dikatakan sebagai domba lokal, dengan bulu pendek dan ekor tipis. Di madura, lombok, dan sulawesi terdapat domba ekor gemuk. Lemak terdapat pada belokan ekor dan berakhir pada ujung ekor yang tipis. Domba yang banyak pengaruhnya terhadap perkembangan domba di indonesia adalah domba merino. Di indonesia domba yang berkembang adalah domba garut, domba ekor gemuk, dan domba ekor tipis.



















BAB II
ISI
Di indonesia domba yang paling umum adalah domba kecil yang tidak termasuk pada jenis tertentu, pada umumnya dikatakan sebagai domba lokal, dengan bulu pendek dan ekor tipis. Di indonesia domba yang berkembang adalah domba garut, domba ekor gemuk, dan domba ekor tipis.
A. DOMBA GARUT



Domba Garut, Ovies Aries, adalah hasil persilangan dari 3 rumpun bangsa domba: Merino – Australia, Kaapstad dari Afrika dan Jawa Ekor Gemuk di Indonesia.Di mana dalam periode 1 tahun, Domba Garut dapat mengalami 2 siklus kelahiran. Domba ini memiliki berat badan rata-rata di atas domba lokal Indonesia lainnya. Domba jantan dapat memiliki berat sekitar 60 – 80 kg bahkan ada yang dapat mencapai lebih dari 100 kg. Sedangkan domba betina memiliki berat antara 30 – 50 kg. Ciri fisik Domba Garut jantan yaitu bertanduk, berleher besar dan kuat, dengan corak warna putih, hitam, cokelat atau campuran ketiganya. Ciri domba betina adalah dominan tidak bertanduk, kalaupun bertanduk namun kecil dengan corak warna yang serupa domba jantan.
Selain itu juga kebersihan dari dombanya itu sendiri harus diperhatikan. Domba harus dijaga agar selalu bersih agar terhindar dari berbagai macam penyakit. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara memandikan domba tersebut seminggu sekali. Tujuan dari memandikan domba adalah supaya domba tersebut terhindar dari berbagai jenis penyakit kulit serta untuk menjaga pertumbuhan bulu domba tersebut. Hal lain yang dilakukan adalah mencukur bulu dan memotong kuku dari domba tersebut yang bertujuan untuk menghindarkan domba dari berbagai kuman yang mungkin menempel lewat bulu dan kuku.

B. DOMBA EKOR GEMUK



Bangsa domba ini berasal dari Asia barat yang dibawa pedagang Bangsa Arab ke Indonesia. Ekor besar dan tebal, baik pada jantan maupun betina. Benyuk ekor melengkukng dan berbentuk sigmoid. Tidak bertanduk dan telinga berukuran sedang. Bulu badan berwarna putih merata. Mampu beranak sepanjang tahun. Tahan terhadap cuaca panas dengan kelembaban tinggi.
Di Sulawesi Selatan dikenal sebagai domba Donggala. Di pulau jawa dikenal juga dengan domba kibas Tanda-tanda yang merupakan karakteristik khas domba ekor gemuk adalah ekor yang besar, lebar dan panjang. Bagian pangkal ekor membesar merupakan timbunan lemak, sedangkan bagian ujung ekor kecil tidak berlemak. Warna bulu putih, tidak bertanduk. Bulu wolnya kasar. Domba ini dikenal sebagai domba yang tahan terhadap panas dan kering. Domba ini diduga berasal dari Asia Barat Daya yang dibawa oleh pedagang bangsa Arab pada abad ke-18. Pada sekitar tahun 1731 sampai 1779 pemerintah Hindia Belanda telah mengimpor domba Kirmani, yaitu domba ekor gemuk dari Persia.
Bentuk tubuh domba ekor gemuk lebih besar dari pada domba ekor tipis. Domba ini merupakan domba pedaging atau domba potong , berat jantan dewasa antara 40 – 60 kg, sedangkan berat badan betina dewasa 25 – 35 kg. Tinggi badan pada jantan dewasa antara 60 – 65 cm, sedangkan pada betina dewasa 52 – 60 cm.

C. DOMBA EKOR TIPIS



Domba ekor tipis ini merupakan domba yang banyak terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Domba ini termasuk golongan domba kecil, dengan berat potong sekitar 20 – 30 kg. Warna bulu putih dan biasanya memiliki bercak hitam di sekeliling matanya. Ekornya tidak menunjukkan adanya desposisi lemak. Domba ekor tipis jantan memiliki tanduk melingkar, sedangkan yang betina biasanya tidak bertanduk. Bulunya berupa wol yang kasar.
Domba Ekor Tipis atau sering disebut Domba Gembel dalam istilah Indonesia, dikenal merupakan domba asli Indonesia, bersifat prolific (dapat melahirkan anak kembar 2-5 ekor). Baik domba jantan maupun betina merupakan tipe domba penghasil daging atau sering disebut jenis domba potong atau domba pedaging
Ternak domba saat ini telah memiliki pangsa pasar tersendiri, dan permintaan di dalam negeri masih dapat dicukupi oleh produk domestik. Akan tetapi peluang ekspor ke kawasan Asean atau Timur Tengah masih terbuka, dan kemungkinan terjadinya lonjakan permintaan untuk keperluan qur ban juga sangat besar. Di lain pihak peluang ini juga mendapat ancaman dari serbuan produk dari negara tetangga, maupun kemungkinan banjir daging beku dari kawasan bebas penyakit berbahaya. Oleh karena itu perlu terus diupayakan
Salah satu ternak yang terancam punah adalah Domba Ekor Tipis yang merupakan domba yang banyak di temukan di Indonesia saat ini. Namun apabila tidak dilakukan kontrol persilangan dan konservasi, keadaan plasma nutfah. Domba Ekor Tipis ini akan berangsur punah, sebab Domba Ekor Tipis yang asli telah tercampur oleh darah dari bangsa lain.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1. Domba dapat diklasifikasikan pada subfamilia caprinae dan semua domba domestik termasuk genus Ovis Apries. Perkem bangan kambing juga mengikuti perkembangan domba. Pusat perkembangan domba dan kambing terjadi di stepa aralocaspian. Dari sini berkembang ke iran, india,asai tenggara ke barat yaitu asai barat, eropa dan afrika.
2. Di indonesia domba yang berkembang adalah domba garut, domba ekor gemuk, dan domba ekor tipis.
3. Domba garut merupakan persilangan 3 bangsa domba, yaitu domba local, domba kaapstad, dan domba merino. Domba ini terdapat di daerah Jawa Barat. Angka produktivitas tinggi dan mampu beranak sepanjang tahun. Laju pertumbuhan baik, berat badan jantan 60-80 kg dan betina 30-40 kg. Warna bulu putih, hitam, cokelat, atau warna campuran dengan bulu halus dan panjang. Tubuh besar, dahi konveks, leher kuat, tanduk jantan besar dan kuat melingkar spiral.
4. Bangsa domba Domba Ekor Tebal, ekor besar dan tebal, baik pada jantan maupun betina. Benyuk ekor melengkukng dan berbentuk sigmoid. Tidak bertanduk dan telinga berukuran sedang. Bulu badan berwarna putih merata. Mampu beranak sepanjang tahun. Tahan terhadap cuaca panas dengan kelembaban tinggi.
5. Domba ekor tipis ini merupakan domba yang banyak terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Domba ini termasuk golongan domba kecil, dengan berat potong sekitar 20 – 30 kg. Warna bulu putih dan biasanya memiliki bercak hitam di sekeliling matanya. Ekornya tidak menunjukkan adanya desposisi lemak. Domba ekor tipis jantan memiliki tanduk melingkar, sedangkan yang betina biasanya tidak bertanduk. Bulunya berupa wol yang kasar.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 2010. http://www.infoternak.com/domba-ekor-gemuk. (Diakses pada hari Rabu, 20 Oktober 2010, pada pukul 09.12 WIB).
Anonimous. 2010. http://d4him.files.wordpress.com/2009/02/makalah-domba-ekor-tipis.pdf. (Diakses pada hari Rabu, 20 Oktober 2010, pada pukul 09.45 WIB).
YBP, Subagyo. 2008. Ilmu Ternak Potong Dan kerja. UNS Press. Surakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar