Cari Blog Ini

Jumat, 15 April 2011

pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan

BAB I
PENDAHULUAN

Lingkungan adalah sesuatu yang sangat luas, mengacu pada semua faktor selain genetik, yang mempengaruhi produktivitas dan kesehatan seekor ternak. Pengaruh lingkungan terhadap ternak dapat secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh lingkungan secara langsung adalah terhadap tingkat produksi melalui metabolisme basal, konsumsi makanan, gerak laju makanan, kebutuhan pemeliharaan, reproduksi pertumbuhan dan produksi susu. Sedangkan pengaruh tidak langsung berhubungan dengan kualitas dan ketersediaan makanan. Faktor lingkungan adalah faktor yang memberikan pengaruh cukup besar terhadap tingkat produksi.
Faktor lingkungan yang langsung berpengaruh pada kehidupan ternak adalah Iklim. Iklim merupakan faktor penentu ciri khas dan pola hidup dari suatu ternak. Faktor iklim juga mempengaruhi jumlah konsumsi pakan dan minum, ketersediaan energi di dalam pakan tercerna, sistem produksi energi hewan, serta energi neto yang akan dipakai untuk pertumbuhan dan reproduksi. Iklim sendiri merupakan bagian terpenting dari penentuan kerja status faali dari ternak. Pengaruh langsung iklim terhadap ternak adalah pada produktivitasnya.
Pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor metabolisme, selain oleh faktor lingkungan dan genetik. Pada umumnya lingkungan memiliki persentase yang lebih tinggi dibanding Genetic, yaitu 70% untuk lingkungan sedang Genetic 30%. Sehingga mengambil bagian yang sangat penting dalam membentuk karakter ternak. Faktor lingkungan yang dapat menekan pertumbuhan pralahir, prasapih dan pascasapih adalah suhu, kelembaban, angin (gerak udara) dan radiasi sinar matahari.





BAB II
ISI

Faktor lingkungan yang berpengaruh pada ternak, salah satunya adalah suhu. Suhu lingkungan sangat berpengaruh pada pertumbuhan ternak. Pertumbuhan pada ternak dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Pertumbuhan Pralahir
Suhu lingkungan mungkin merupakan faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan pralahir. Pada daerah dingin, beragam bobot lahir, utamanya disebabkan oleh masukan kalori (dari pakan) induknya pada saat bunting yang dipengaruhi oleh musim.
Sebagai contoh : Domba bunting yang ditempatkan pada kamar iklim dengan suhu tinggi, akan melahirkan anak yang ringan bobotnya, yang sebanding dengan lamanya penempatan pada suhu lingkungan panas itu. Anak domba yang ringan ini, bentuk badannya proposional, berbeda dengan anak domba yang kurang pakan, yang kakinya relatif panjang.
Mekanisme pengaruh suhu lingkungan terhadap bobot lahir masih belum jelas, tetapi diduga adanya hubungan dengan plasenta sehingga aliran darah berkurang, ada gangguan pituitrin, atau produksi steroida adrenal yang berlebihan.

2. Pertumbuhan Pascalahir
Pertumbuhan hewan yang masih menyusui , selain tergantung pada pengaruh lingkungan terhadap individu itu sendiri, juga tergantung pada pengaruh lingkungan terhadap induknya.
a. Pengaruh Panas
Setelah disapih, pertumbuhan hewan dapat dihambat oleh suhu lingkungan yang dipengaruhi juga oleh bangsa, umur, kegemukan, tingkat pakan dan kelembaban udara.
Contoh :
1) Pada babi, pertumbuhan yang cepat terjadi pada suhu lingkungan antara 21-16oC, baik pada babi yang bobotnya 45 kg, maupun 90 kg. Paa suhu 30oC pertumbuhannya lebih lamban daripada pada suhu 10oC, antara lain karena konsumsi pakan menurun.
2) Kehidupan ternak sapi diperlukan suhu optimal diantara 13 sampai 18oC dan bila suhu naik diantara 1 – 10oC dari suhu optimalnya, ternak akan mengalami depresi. Suhu udara dan kelembaban tinggi akan menimbulkan stress akibat kenaikan suhu tubuhnya. Untuk menurunkan suhu tubuhnya yang naik, maka diperlukan energi tambahan guna mencapai keseimbangan tubuhnya, efisiensi energi pakan (makanan) menjadi lebih kecil.

b. Pengaruh Dingin
Umumnya, hewan akan kehilangan bobot badannya jika kedinginan. Pakan yang dikonsumsi memang bertambah, tetapi tidak cukup untuk mempertahankan suhu tubuh, sehingga pertambahan bobot badan terhambat.
Contoh : Pada suhu lingkungan 20oC, laju pertumbuhan sama dengan suhu lingkungan 25oC, tetapi jika suhu lingkungan lebih dingin, pertumbuhan terhambat.

c. Pengaruh Angin
Angin dapat mengganggu hewan jika suhu lingkungannya dingin, utamanya jika badannya basah. Jika kulit atau bulu badannya kering, angin dengan kecepatan 14 km/jam pada suhu lingkungan -8oC, tidak berpengaruh pada sapi. Angin dengan kecepatan 7 km/jam, akan menghambat pertumbuhan burung pada musim dingin, tetapi tidak berpengaruh pada musim panas. Ini berarti, angin tidak berguna bagi hewan yang tidak memliki kelenjar keringat, meskipun lingkungan panas.

d. Komposisi Badan
Suhu lingkungan mempengaruhi komposisi kimiawi badan. Contoh : Pada suhu 18 oC, pertambahan bobot badan ayam lebih besar, tetapi utamanya karena air, sedang pertambahan kalori jaringan badannya minimum.
Suhu dan kelembaban optimum yang konstan, dapat mempertahankan kualitas karkas. Contoh : Pada suhu 24 oC dan kelembaban 90%, kualitas karkas babi lebih jelek daripada pada suhu 23 oC dan kelembaban 50% .

e. Perbedaan Spesies dan Bangsa
Pada semua spesies, pertumbuhan akan berhenti pada suhu batas, baik batas minimum maupun batas maksimum. Umumnya, laju pertumbuhan akan optimum pada suhu lingkungan 17-40 oC (20-25 oC pada babi dan 20-27 oC pada ayam).
Contoh : Di daerah dingin, bangsa sapi potong Eropa akan tumbuh lebih cepat daripada bangsa Brahma, begitu pula sebaliknya. Hal ini merupakan seleksi yang disesuaikan dengan lingkungan.
Hewan yang diaklimatisasi dari daerah dingin ke daerah tropika, biasanya tumbuh tidak maksimum dan masa dewasanya tertunda. Jika hewan ini dipeihara dan dipersilangkan di daerah tropika, maka generasi pertamanya akan memperlihatkan penampilan yang lebih jelek daripada generasi-generasi berikutnya. Ini merupakan proses aklimatisasi.

f. Mekanisme Nutrisi dan Metabolisme
Kebutuhan zat pakan hewan, tergantung pada suhu lingkungan. Pengurangan atau penghambatan pertumbuhan pada suhu lingkungan tinggi disebabkan oleh :
- Berkurangnya konsumsi pakan
- Bertambahnya energi yang dibuang dalam bentuk panas , utamanua lewat alat pernafasan
- Berkurangnya jumlah nitrogen, lemak dan air yang disimpan
Suhu lingkungan mempengaruhi cairan dan elektrolit badan, misalnya glukosa darah, nitrogen plasma total, sodium plasma dan urine, perbandingan (rasio) potasim dan sodium, komponen nitrogen tercerna, ekskresi nitrogen urine, retensi nitrogen, konsumsi air, volume urine yang diekskresi, glukosa darah dan glikogen hati.
g. Mekanisme Hormonal dan Enzim
Jika hewan homeotermik ditempatkan pada suhu lingkungan di atas atau di bawah daerah suhu netral, akan terjadi perubahan proses faali dan biokimiawi di dalam badan. Fluktuasi suhu lingkungan mempengaruhi jumlah pakan yang dikonsumsi yang kemudian akan mempengaruhi ketersediaan substrat dan hormon. Enzim yang mengkatalisis berbagai reaksi metabolit, dipengaruhi oleh kadar substrat dan hormon.
Produk metabolit yang penting bagi pertumbuhan adalah hormon tiroit dan koenzimnya, yaitu glutathione. Tanpa hormon tiroit, pertumbuhan akan terhenti. Peranan glutathione masih belum jelas, tetapi glutathione dan asam askorbat dapat menghambat kemampuan reduksi isi sel.





Kesimpulan

1. Pertumbuhan pada ternak dibagi menjadi 2, yaitu pertunbuhan pra lahir dan pertumbuhan pasca lahir.
2. Pertumbuhan pralahir
Suhu lingkungan mungkin merupakan faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan pralahir. Pada daerah dingin, beragam bobot lahir, utamanya disebabkan oleh masukan kalori (dari pakan) induknya pada saat bunting yang dipengaruhi oleh musim.
3. Faktor yang mempengarui pertumbuhan pascalahir antara lain:
a. Pengaruh panas
Kehidupan ternak sapi diperlukan suhu optimal diantara 13 sampai 18oC dan bila suhu naik diantara 1 – 10oC dari suhu optimalnya, ternak akan mengalami depresi.
b. Pengaruh Dingin
Pada suhu lingkungan 20oC, laju pertumbuhan sama dengan suhu lingkungan 25oC, tetapi jika suhu lingkungan lebih dingin, pertumbuhan terhambat.
c. Pengaruh Angin
Angin dapat mengganggu hewan jika suhu lingkungannya dingin, utamanya jika badannya basah.
d. Komposisi Badan
Suhu lingkungan mempengaruhi komposisi kimiawi badan. Sedangkan suhu dan kelembaban optimum yang konstan, dapat mempertahankan kualitas karkas.
e. Perbedaan Spesies dan Bangsa
Pada semua spesies, pertumbuhan akan berhenti pada suhu batas, baik batas minimum maupun batas maksimum.
f. Mekanisme Nutrisi dan Metabolisme
Kebutuhan zat pakan hewan, tergantung pada suhu lingkungan. Pengurangan atau penghambatan pertumbuhan pada suhu lingkungan tinggi disebabkan oleh :
 Berkurangnya konsumsi pakan
 Bertambahnya energi yang dibuang dalam bentuk panas ,
 Berkurangnya jumlah nitrogen, lemak dan air yang disimpan

g. Mekanisme Hormonal dan Enzim
Jika hewan homeotermik ditempatkan pada suhu lingkungan di atas atau di bawah daerah suhu netral, akan terjadi perubahan proses faali dan biokimiawi di dalam badan






























DAFTAR PUSTAKA


Anonim, 2009. Pengaruh Lingkungan terhadap Keadaan Fisiologis Ternak. http://bubblehousebandryfarm.blogspot.com Diakses pada tanggal 23 Maret 2010 pukul 19.00 WIB.
Anonim, 2009. Pengaruh Lingkungan Terhadap Tingkah Laku Ternak. http://animal-intelektual.blogspot.com/2009/06/pengaruh-lingkungan-terhadap-tingkah.html Diakses pada tanggal 24 Maret 2010 pukul 16.00 WIB.
Soedomo Reksohadiprojo. 1984. Pengantar Ilmu Peternakan Tropik. BPFE, Yogyakarta.
Sudarmoyo, Bambang. 2000. Ilmu Lingkungan Ternak. Universitas Diponegoro. Semarang.
Umar Ar., dkk. 1991. Pengaruh Frekuensi Penyiraman/memandikan terhadap status faali Sapi Perah yang dipelihara di Bertais Kabupaten Lombok Barat. UNRAM University Press, Mataram.
Widoretno, Dyah Kusumo Utari., 1983. Cara Pengukuran Ekskresi Keringan untuk Mengetahui Daya Tahan Panas Sapi Potong. UNPAD University Press, Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar