Cari Blog Ini

Senin, 18 April 2011

domba potong

BAB I
PENDAHULUAN
Domba dapat diklasifikasikan pada subfamilia caprinae dan semua domba domestik termasuk genus Ovis Apries. Perkem bangan kambing juga mengikuti perkembangan domba. Pusat perkembangan domba dan kambing terjadi di stepa aralocaspian. Dari sini berkembang ke iran, india,asai tenggara ke barat yaitu asai barat, eropa dan afrika. Sejak dulu domba sudah masuk ke amerika, australia, dan beberapa kepulauan tropik ocenia.
Di afrika terdapat hewan liar yang dikenal dengan nama baebari atau arni (ammotragus lervia),mempunyai hubungan dekat dengan domba tetapi tidak pernah di domestikasikan dan tidak ada hubungan dengan domba modern. Di daerah asia tenggara yang basah terdapat beberapa jenis domba dan umumnya tubuhnya kecil, berambut, meskipun di indonesia terdapat domba ekor gemuk yang ada kemungkinannya berasal dari india atau asia nbarat dan ada juga yang mempunyai wool jelek yang berasal dari persilangan domba lokal berambut dengan jenis domba wool dari cape di australia. Di hutan juga di thailand dan malaysia terdapat juga domba yang wool kasar yang merupakan persilangan antara domba lokal dengan domba wool dari cina.
Domba dengan kaki panjang dan domba berambut yang kecil asal afrika barat di baewa ke brazilia, guyana dan india barat pada abad ke 17 dan berkembang di daerah tropik basah dimana domba iberian dimasukkan lebih dulu tidak dapat berkembang dengan baik.
Terdapat banyak bukti bahwa domba lebih sensitif dibandingkan dengan ternak yang lain terhadap perubahan iklim. Namun demikian, domba dapat dengan mudah beradaptasi dengan kondisi makanan yang tersedia, bahkan mampu hidup dengan baik pada rumput seadanya seperti rumput lapangan. Di darrah tropis, domba mampu hidup di daerah ketinggian dengan iklim semi arid dimana vegetasi rumput pendek atau pada stappe.


Dari perkembangan daerah dengan pakan serta iklim yang berbeda akan terdapat deretan domba yang berbeda bada. Dengan perdagangan ternak serta usaha gradding up akan menyebabkan perkembangan bangsa-bangsa domba yang bermacam macam.
Di indonesia domba yang paling umum adalah domba kecil yang tidak termasuk pada jenis tertentu, pada umumnya dikatakan sebagai domba lokal, dengan bulu pendek dan ekor tipis. Di madura, lombok, dan sulawesi terdapat domba ekor gemuk. Lemak terdapat pada belokan ekor dan berakhir pada ujung ekor yang tipis. Domba yang banyak pengaruhnya terhadap perkembangan domba di indonesia adalah domba merino. Di indonesia domba yang berkembang adalah domba garut, domba ekor gemuk, dan domba ekor tipis.



















BAB II
ISI
Di indonesia domba yang paling umum adalah domba kecil yang tidak termasuk pada jenis tertentu, pada umumnya dikatakan sebagai domba lokal, dengan bulu pendek dan ekor tipis. Di indonesia domba yang berkembang adalah domba garut, domba ekor gemuk, dan domba ekor tipis.
A. DOMBA GARUT



Domba Garut, Ovies Aries, adalah hasil persilangan dari 3 rumpun bangsa domba: Merino – Australia, Kaapstad dari Afrika dan Jawa Ekor Gemuk di Indonesia.Di mana dalam periode 1 tahun, Domba Garut dapat mengalami 2 siklus kelahiran. Domba ini memiliki berat badan rata-rata di atas domba lokal Indonesia lainnya. Domba jantan dapat memiliki berat sekitar 60 – 80 kg bahkan ada yang dapat mencapai lebih dari 100 kg. Sedangkan domba betina memiliki berat antara 30 – 50 kg. Ciri fisik Domba Garut jantan yaitu bertanduk, berleher besar dan kuat, dengan corak warna putih, hitam, cokelat atau campuran ketiganya. Ciri domba betina adalah dominan tidak bertanduk, kalaupun bertanduk namun kecil dengan corak warna yang serupa domba jantan.
Selain itu juga kebersihan dari dombanya itu sendiri harus diperhatikan. Domba harus dijaga agar selalu bersih agar terhindar dari berbagai macam penyakit. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara memandikan domba tersebut seminggu sekali. Tujuan dari memandikan domba adalah supaya domba tersebut terhindar dari berbagai jenis penyakit kulit serta untuk menjaga pertumbuhan bulu domba tersebut. Hal lain yang dilakukan adalah mencukur bulu dan memotong kuku dari domba tersebut yang bertujuan untuk menghindarkan domba dari berbagai kuman yang mungkin menempel lewat bulu dan kuku.

B. DOMBA EKOR GEMUK



Bangsa domba ini berasal dari Asia barat yang dibawa pedagang Bangsa Arab ke Indonesia. Ekor besar dan tebal, baik pada jantan maupun betina. Benyuk ekor melengkukng dan berbentuk sigmoid. Tidak bertanduk dan telinga berukuran sedang. Bulu badan berwarna putih merata. Mampu beranak sepanjang tahun. Tahan terhadap cuaca panas dengan kelembaban tinggi.
Di Sulawesi Selatan dikenal sebagai domba Donggala. Di pulau jawa dikenal juga dengan domba kibas Tanda-tanda yang merupakan karakteristik khas domba ekor gemuk adalah ekor yang besar, lebar dan panjang. Bagian pangkal ekor membesar merupakan timbunan lemak, sedangkan bagian ujung ekor kecil tidak berlemak. Warna bulu putih, tidak bertanduk. Bulu wolnya kasar. Domba ini dikenal sebagai domba yang tahan terhadap panas dan kering. Domba ini diduga berasal dari Asia Barat Daya yang dibawa oleh pedagang bangsa Arab pada abad ke-18. Pada sekitar tahun 1731 sampai 1779 pemerintah Hindia Belanda telah mengimpor domba Kirmani, yaitu domba ekor gemuk dari Persia.
Bentuk tubuh domba ekor gemuk lebih besar dari pada domba ekor tipis. Domba ini merupakan domba pedaging atau domba potong , berat jantan dewasa antara 40 – 60 kg, sedangkan berat badan betina dewasa 25 – 35 kg. Tinggi badan pada jantan dewasa antara 60 – 65 cm, sedangkan pada betina dewasa 52 – 60 cm.

C. DOMBA EKOR TIPIS



Domba ekor tipis ini merupakan domba yang banyak terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Domba ini termasuk golongan domba kecil, dengan berat potong sekitar 20 – 30 kg. Warna bulu putih dan biasanya memiliki bercak hitam di sekeliling matanya. Ekornya tidak menunjukkan adanya desposisi lemak. Domba ekor tipis jantan memiliki tanduk melingkar, sedangkan yang betina biasanya tidak bertanduk. Bulunya berupa wol yang kasar.
Domba Ekor Tipis atau sering disebut Domba Gembel dalam istilah Indonesia, dikenal merupakan domba asli Indonesia, bersifat prolific (dapat melahirkan anak kembar 2-5 ekor). Baik domba jantan maupun betina merupakan tipe domba penghasil daging atau sering disebut jenis domba potong atau domba pedaging
Ternak domba saat ini telah memiliki pangsa pasar tersendiri, dan permintaan di dalam negeri masih dapat dicukupi oleh produk domestik. Akan tetapi peluang ekspor ke kawasan Asean atau Timur Tengah masih terbuka, dan kemungkinan terjadinya lonjakan permintaan untuk keperluan qur ban juga sangat besar. Di lain pihak peluang ini juga mendapat ancaman dari serbuan produk dari negara tetangga, maupun kemungkinan banjir daging beku dari kawasan bebas penyakit berbahaya. Oleh karena itu perlu terus diupayakan
Salah satu ternak yang terancam punah adalah Domba Ekor Tipis yang merupakan domba yang banyak di temukan di Indonesia saat ini. Namun apabila tidak dilakukan kontrol persilangan dan konservasi, keadaan plasma nutfah. Domba Ekor Tipis ini akan berangsur punah, sebab Domba Ekor Tipis yang asli telah tercampur oleh darah dari bangsa lain.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1. Domba dapat diklasifikasikan pada subfamilia caprinae dan semua domba domestik termasuk genus Ovis Apries. Perkem bangan kambing juga mengikuti perkembangan domba. Pusat perkembangan domba dan kambing terjadi di stepa aralocaspian. Dari sini berkembang ke iran, india,asai tenggara ke barat yaitu asai barat, eropa dan afrika.
2. Di indonesia domba yang berkembang adalah domba garut, domba ekor gemuk, dan domba ekor tipis.
3. Domba garut merupakan persilangan 3 bangsa domba, yaitu domba local, domba kaapstad, dan domba merino. Domba ini terdapat di daerah Jawa Barat. Angka produktivitas tinggi dan mampu beranak sepanjang tahun. Laju pertumbuhan baik, berat badan jantan 60-80 kg dan betina 30-40 kg. Warna bulu putih, hitam, cokelat, atau warna campuran dengan bulu halus dan panjang. Tubuh besar, dahi konveks, leher kuat, tanduk jantan besar dan kuat melingkar spiral.
4. Bangsa domba Domba Ekor Tebal, ekor besar dan tebal, baik pada jantan maupun betina. Benyuk ekor melengkukng dan berbentuk sigmoid. Tidak bertanduk dan telinga berukuran sedang. Bulu badan berwarna putih merata. Mampu beranak sepanjang tahun. Tahan terhadap cuaca panas dengan kelembaban tinggi.
5. Domba ekor tipis ini merupakan domba yang banyak terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Domba ini termasuk golongan domba kecil, dengan berat potong sekitar 20 – 30 kg. Warna bulu putih dan biasanya memiliki bercak hitam di sekeliling matanya. Ekornya tidak menunjukkan adanya desposisi lemak. Domba ekor tipis jantan memiliki tanduk melingkar, sedangkan yang betina biasanya tidak bertanduk. Bulunya berupa wol yang kasar.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 2010. http://www.infoternak.com/domba-ekor-gemuk. (Diakses pada hari Rabu, 20 Oktober 2010, pada pukul 09.12 WIB).
Anonimous. 2010. http://d4him.files.wordpress.com/2009/02/makalah-domba-ekor-tipis.pdf. (Diakses pada hari Rabu, 20 Oktober 2010, pada pukul 09.45 WIB).
YBP, Subagyo. 2008. Ilmu Ternak Potong Dan kerja. UNS Press. Surakarta.

Jumat, 15 April 2011

kandang

Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari
jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi
dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang
bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling
berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran
tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.

Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya
berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya
sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk
komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar sehingga
dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak.

Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya
berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan
mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan
jerami kering sebagai alas kandang yang hangat.

Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci
hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol,
dan bahan- bahan
lainnya.

Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah
1,5x2 m atau 2,5x2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8x2
m dan untuk anak sapi cukup 1,5x1 m per ekor, dengan tinggi atas +
2-2,5 m dari tanah.

Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C)
dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran
rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).

Kandang untuk pemeliharaan sapi harus bersih dan tidak lembab.
Pembuatan kandang harus memperhatikan beberapa persyaratan pokok yang
meliputi konstruksi, letak, ukuran dan perlengkapan kandang.

1) Konstruksi dan letak kandang

Konstruksi kandang sapi seperti rumah kayu. Atap kandang berbentuk
kuncup dan salah satu/kedua sisinya miring. Lantai kandang dibuat
padat, lebih tinggi dari pada tanah sekelilingnya dan agak miring
kearah selokan di luar kandang. Maksudnya adalah agar air yang tampak,
termasuk kencing sapi mudah mengalir ke luar lantai kandang tetap
kering.
Bahan konstruksi kandang adalah kayu gelondongan/papan yang berasal
dari kayu yang kuat. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat, tetapi
agak terbuka agar sirkulasi udara didalamnya lancar.

Termasuk dalam rangkaian penyediaan pakan sapi adalah air minum yang
bersih. Air minum diberikan secara ad libitum, artinya harus tersedia
dan tidak boleh kehabisan setiap saat. Kandang harus terpisah dari
rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter
dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang. Pembuatan
kandang sapi dapat dilakukan secara berkelompok di tengah
sawah/ladang.

2) Ukuran Kandang

Sebelum membuat kandang sebaiknya diperhitungkan lebih dulu jumlah
sapi yang akan dipelihara. Ukuran kandang untuk seekor sapi jantan
dewasa adalah 1,5 x 2 m. Sedangkan untuk seekor sapi betina dewasa
adalah 1,8 x 2 m dan untuk seekor anak sapi cukup 1,5x1 m.

3) Perlengkapan Kandang

Termasuk dalam perlengkapan kandang adalah tempat pakan dan minum,
yang sebaiknya dibuat di luar kandang, tetapi masih dibawah atap.
Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak
diinjakinjak/ tercampur kotoran. Tempat air minum sebaiknya dibuat
permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi dari pada permukaan
lantai.

Dengan demikian kotoran dan air kencing tidak tercampur didalamnya.
Perlengkapan lain yang perlu disediakan adalah sapu, sikat, sekop,
sabit, dan tempat untuk memandikan sapi. Semua peralatan tersebut
adalah untuk membersihkan kandang agar sapi terhindar dari gangguan
penyakit sekaligus bisa dipakai untuk memandikan sapi.



http://bubblehousebandryfarm.blogspot.com/2009/01/pengaruh-lingkungan-terhadap-keadaan.html
http://download-book.net/pengaruh-lingkungan-terhadap-kondisi-kesehatan-ternak-pdf.html

http://imbang.staff.umm.ac.id/files/2010/02/FAKTOR2-PENYEBAB-DAN-CARA-PENULARAN-PENYAKIT.doc
http://www.pdfqueen.com/html/aHR0cDovL2xvbGl0c2FwaS5saXRiYW5nLmRlcHRhbi5nby5pZC9lbmcvaW1hZ2VzL2Rva3VtZW4vcGtuZG5nYW4ucGRm

http://lolitsapi.litbang.deptan.go.id/eng/images/dokumen/pkndngan.pdf
http://download-book.net/bentuk-kandang-ternak-pdf-2.html

pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan

BAB I
PENDAHULUAN

Lingkungan adalah sesuatu yang sangat luas, mengacu pada semua faktor selain genetik, yang mempengaruhi produktivitas dan kesehatan seekor ternak. Pengaruh lingkungan terhadap ternak dapat secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh lingkungan secara langsung adalah terhadap tingkat produksi melalui metabolisme basal, konsumsi makanan, gerak laju makanan, kebutuhan pemeliharaan, reproduksi pertumbuhan dan produksi susu. Sedangkan pengaruh tidak langsung berhubungan dengan kualitas dan ketersediaan makanan. Faktor lingkungan adalah faktor yang memberikan pengaruh cukup besar terhadap tingkat produksi.
Faktor lingkungan yang langsung berpengaruh pada kehidupan ternak adalah Iklim. Iklim merupakan faktor penentu ciri khas dan pola hidup dari suatu ternak. Faktor iklim juga mempengaruhi jumlah konsumsi pakan dan minum, ketersediaan energi di dalam pakan tercerna, sistem produksi energi hewan, serta energi neto yang akan dipakai untuk pertumbuhan dan reproduksi. Iklim sendiri merupakan bagian terpenting dari penentuan kerja status faali dari ternak. Pengaruh langsung iklim terhadap ternak adalah pada produktivitasnya.
Pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor metabolisme, selain oleh faktor lingkungan dan genetik. Pada umumnya lingkungan memiliki persentase yang lebih tinggi dibanding Genetic, yaitu 70% untuk lingkungan sedang Genetic 30%. Sehingga mengambil bagian yang sangat penting dalam membentuk karakter ternak. Faktor lingkungan yang dapat menekan pertumbuhan pralahir, prasapih dan pascasapih adalah suhu, kelembaban, angin (gerak udara) dan radiasi sinar matahari.





BAB II
ISI

Faktor lingkungan yang berpengaruh pada ternak, salah satunya adalah suhu. Suhu lingkungan sangat berpengaruh pada pertumbuhan ternak. Pertumbuhan pada ternak dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Pertumbuhan Pralahir
Suhu lingkungan mungkin merupakan faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan pralahir. Pada daerah dingin, beragam bobot lahir, utamanya disebabkan oleh masukan kalori (dari pakan) induknya pada saat bunting yang dipengaruhi oleh musim.
Sebagai contoh : Domba bunting yang ditempatkan pada kamar iklim dengan suhu tinggi, akan melahirkan anak yang ringan bobotnya, yang sebanding dengan lamanya penempatan pada suhu lingkungan panas itu. Anak domba yang ringan ini, bentuk badannya proposional, berbeda dengan anak domba yang kurang pakan, yang kakinya relatif panjang.
Mekanisme pengaruh suhu lingkungan terhadap bobot lahir masih belum jelas, tetapi diduga adanya hubungan dengan plasenta sehingga aliran darah berkurang, ada gangguan pituitrin, atau produksi steroida adrenal yang berlebihan.

2. Pertumbuhan Pascalahir
Pertumbuhan hewan yang masih menyusui , selain tergantung pada pengaruh lingkungan terhadap individu itu sendiri, juga tergantung pada pengaruh lingkungan terhadap induknya.
a. Pengaruh Panas
Setelah disapih, pertumbuhan hewan dapat dihambat oleh suhu lingkungan yang dipengaruhi juga oleh bangsa, umur, kegemukan, tingkat pakan dan kelembaban udara.
Contoh :
1) Pada babi, pertumbuhan yang cepat terjadi pada suhu lingkungan antara 21-16oC, baik pada babi yang bobotnya 45 kg, maupun 90 kg. Paa suhu 30oC pertumbuhannya lebih lamban daripada pada suhu 10oC, antara lain karena konsumsi pakan menurun.
2) Kehidupan ternak sapi diperlukan suhu optimal diantara 13 sampai 18oC dan bila suhu naik diantara 1 – 10oC dari suhu optimalnya, ternak akan mengalami depresi. Suhu udara dan kelembaban tinggi akan menimbulkan stress akibat kenaikan suhu tubuhnya. Untuk menurunkan suhu tubuhnya yang naik, maka diperlukan energi tambahan guna mencapai keseimbangan tubuhnya, efisiensi energi pakan (makanan) menjadi lebih kecil.

b. Pengaruh Dingin
Umumnya, hewan akan kehilangan bobot badannya jika kedinginan. Pakan yang dikonsumsi memang bertambah, tetapi tidak cukup untuk mempertahankan suhu tubuh, sehingga pertambahan bobot badan terhambat.
Contoh : Pada suhu lingkungan 20oC, laju pertumbuhan sama dengan suhu lingkungan 25oC, tetapi jika suhu lingkungan lebih dingin, pertumbuhan terhambat.

c. Pengaruh Angin
Angin dapat mengganggu hewan jika suhu lingkungannya dingin, utamanya jika badannya basah. Jika kulit atau bulu badannya kering, angin dengan kecepatan 14 km/jam pada suhu lingkungan -8oC, tidak berpengaruh pada sapi. Angin dengan kecepatan 7 km/jam, akan menghambat pertumbuhan burung pada musim dingin, tetapi tidak berpengaruh pada musim panas. Ini berarti, angin tidak berguna bagi hewan yang tidak memliki kelenjar keringat, meskipun lingkungan panas.

d. Komposisi Badan
Suhu lingkungan mempengaruhi komposisi kimiawi badan. Contoh : Pada suhu 18 oC, pertambahan bobot badan ayam lebih besar, tetapi utamanya karena air, sedang pertambahan kalori jaringan badannya minimum.
Suhu dan kelembaban optimum yang konstan, dapat mempertahankan kualitas karkas. Contoh : Pada suhu 24 oC dan kelembaban 90%, kualitas karkas babi lebih jelek daripada pada suhu 23 oC dan kelembaban 50% .

e. Perbedaan Spesies dan Bangsa
Pada semua spesies, pertumbuhan akan berhenti pada suhu batas, baik batas minimum maupun batas maksimum. Umumnya, laju pertumbuhan akan optimum pada suhu lingkungan 17-40 oC (20-25 oC pada babi dan 20-27 oC pada ayam).
Contoh : Di daerah dingin, bangsa sapi potong Eropa akan tumbuh lebih cepat daripada bangsa Brahma, begitu pula sebaliknya. Hal ini merupakan seleksi yang disesuaikan dengan lingkungan.
Hewan yang diaklimatisasi dari daerah dingin ke daerah tropika, biasanya tumbuh tidak maksimum dan masa dewasanya tertunda. Jika hewan ini dipeihara dan dipersilangkan di daerah tropika, maka generasi pertamanya akan memperlihatkan penampilan yang lebih jelek daripada generasi-generasi berikutnya. Ini merupakan proses aklimatisasi.

f. Mekanisme Nutrisi dan Metabolisme
Kebutuhan zat pakan hewan, tergantung pada suhu lingkungan. Pengurangan atau penghambatan pertumbuhan pada suhu lingkungan tinggi disebabkan oleh :
- Berkurangnya konsumsi pakan
- Bertambahnya energi yang dibuang dalam bentuk panas , utamanua lewat alat pernafasan
- Berkurangnya jumlah nitrogen, lemak dan air yang disimpan
Suhu lingkungan mempengaruhi cairan dan elektrolit badan, misalnya glukosa darah, nitrogen plasma total, sodium plasma dan urine, perbandingan (rasio) potasim dan sodium, komponen nitrogen tercerna, ekskresi nitrogen urine, retensi nitrogen, konsumsi air, volume urine yang diekskresi, glukosa darah dan glikogen hati.
g. Mekanisme Hormonal dan Enzim
Jika hewan homeotermik ditempatkan pada suhu lingkungan di atas atau di bawah daerah suhu netral, akan terjadi perubahan proses faali dan biokimiawi di dalam badan. Fluktuasi suhu lingkungan mempengaruhi jumlah pakan yang dikonsumsi yang kemudian akan mempengaruhi ketersediaan substrat dan hormon. Enzim yang mengkatalisis berbagai reaksi metabolit, dipengaruhi oleh kadar substrat dan hormon.
Produk metabolit yang penting bagi pertumbuhan adalah hormon tiroit dan koenzimnya, yaitu glutathione. Tanpa hormon tiroit, pertumbuhan akan terhenti. Peranan glutathione masih belum jelas, tetapi glutathione dan asam askorbat dapat menghambat kemampuan reduksi isi sel.





Kesimpulan

1. Pertumbuhan pada ternak dibagi menjadi 2, yaitu pertunbuhan pra lahir dan pertumbuhan pasca lahir.
2. Pertumbuhan pralahir
Suhu lingkungan mungkin merupakan faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan pralahir. Pada daerah dingin, beragam bobot lahir, utamanya disebabkan oleh masukan kalori (dari pakan) induknya pada saat bunting yang dipengaruhi oleh musim.
3. Faktor yang mempengarui pertumbuhan pascalahir antara lain:
a. Pengaruh panas
Kehidupan ternak sapi diperlukan suhu optimal diantara 13 sampai 18oC dan bila suhu naik diantara 1 – 10oC dari suhu optimalnya, ternak akan mengalami depresi.
b. Pengaruh Dingin
Pada suhu lingkungan 20oC, laju pertumbuhan sama dengan suhu lingkungan 25oC, tetapi jika suhu lingkungan lebih dingin, pertumbuhan terhambat.
c. Pengaruh Angin
Angin dapat mengganggu hewan jika suhu lingkungannya dingin, utamanya jika badannya basah.
d. Komposisi Badan
Suhu lingkungan mempengaruhi komposisi kimiawi badan. Sedangkan suhu dan kelembaban optimum yang konstan, dapat mempertahankan kualitas karkas.
e. Perbedaan Spesies dan Bangsa
Pada semua spesies, pertumbuhan akan berhenti pada suhu batas, baik batas minimum maupun batas maksimum.
f. Mekanisme Nutrisi dan Metabolisme
Kebutuhan zat pakan hewan, tergantung pada suhu lingkungan. Pengurangan atau penghambatan pertumbuhan pada suhu lingkungan tinggi disebabkan oleh :
 Berkurangnya konsumsi pakan
 Bertambahnya energi yang dibuang dalam bentuk panas ,
 Berkurangnya jumlah nitrogen, lemak dan air yang disimpan

g. Mekanisme Hormonal dan Enzim
Jika hewan homeotermik ditempatkan pada suhu lingkungan di atas atau di bawah daerah suhu netral, akan terjadi perubahan proses faali dan biokimiawi di dalam badan






























DAFTAR PUSTAKA


Anonim, 2009. Pengaruh Lingkungan terhadap Keadaan Fisiologis Ternak. http://bubblehousebandryfarm.blogspot.com Diakses pada tanggal 23 Maret 2010 pukul 19.00 WIB.
Anonim, 2009. Pengaruh Lingkungan Terhadap Tingkah Laku Ternak. http://animal-intelektual.blogspot.com/2009/06/pengaruh-lingkungan-terhadap-tingkah.html Diakses pada tanggal 24 Maret 2010 pukul 16.00 WIB.
Soedomo Reksohadiprojo. 1984. Pengantar Ilmu Peternakan Tropik. BPFE, Yogyakarta.
Sudarmoyo, Bambang. 2000. Ilmu Lingkungan Ternak. Universitas Diponegoro. Semarang.
Umar Ar., dkk. 1991. Pengaruh Frekuensi Penyiraman/memandikan terhadap status faali Sapi Perah yang dipelihara di Bertais Kabupaten Lombok Barat. UNRAM University Press, Mataram.
Widoretno, Dyah Kusumo Utari., 1983. Cara Pengukuran Ekskresi Keringan untuk Mengetahui Daya Tahan Panas Sapi Potong. UNPAD University Press, Bandung.